Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 13 Desember 2016

Tag:

SMART MONEY WAVE: Present and Future

https://bocconiesa.files.wordpress.com/


Apa itu GNTT?

Tanggal 14 Agustus 2014 menjelang peringatan HUT Negara Republik Indonesia ke-69, merupakan milestone dimulainya pencanangan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNTT) oleh Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo di Jakarta. Pencanangan GNTT bertujuan untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap penggunaan instrumen non-tunai, yang mengarah kepada less cash society.

Potensi transaksi pembayaran non-tunai di Indonesia masih sangat besar, didukung oleh angka rasio penetrasi akses perbankan ke masyarakat yang masih cukup rendah sebesar 36%1, dan tantangan pengembangan infrastruktur perbankan karena faktor geografis dan jumlah penduduk.


Pengenalan Instrumen Pembayaran dan Jenis Uang Beredar

Sebelum membahas mengenai program GNTT, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu instrumen pembayaran yang berlaku saat ini dan jenis uang yang beredar.

Menurut Bank Indonesia, instrumen alat pembayaran dapat dikategorikan menjadi dua:
1.     Instrumen pembayaran tunai
2.     Instrumen pembayaran non-tunai

Instrumen pembayaran tunai dapat dibagi menjadi 3 jenis:
a.     Uang Kertas
b.     Uang Logam
c.     Uang Khusus
Kategori uang khusus umumnya jarang digunakan untuk transaksi. Emisi jenis uang khusus ditujukan untuk peringatan kejadian nasional tertentu dan fungsi kolektor.

Gambar 1 – Instrumen Pembayaran Tunai

Instrumen pembayaran tunai disebut juga sebagai "uang kartal", umumnya digunakan sebagai alat pembayaran sehari-hari yang sifatnya retail, misalnya ongkos transportasi, belanja di pasar, membeli makanan, dan lain sebagainya. Pada era tahun 1980an, di mana perkembangan teknologi masih terbatas, uang kartal bahkan digunakan untuk alat pembayaran dengan jumlah yang besar, misalnya untuk membayar uang muka rumah, kendaraan, dan lain sebagainya.

Instrumen pembayaran non-tunai dapat dibagi menjadi 5 jenis:
a.     Kartu
Kartu debit dan kartu kredit dengan menggunakan chip.
b.     Cek
c.     Bilyet Giro
d.     Nota Debit
e.     Uang Elektronik (atau dikenal dengan E-Money)

Kartu debit dan kartu kredit, sudah cukup umum di masyarakat. Fungsinya sebagai alat pembayaran dalam ukuran nominal menengah ke besar, sesuai dengan limit masing-masing nasabah. Cek, bilyet giro dan nota debit, umumnya digunakan untuk masyarakat yang memiliki kegiatan bisnis sebagai alat pembayaran transaksi dalam nominal yang besar. Cek, bilyet giro dan nota debit akan memudahkan pelaku bisnis dalam menyelesaikan transaksi dengan pihak lain, tanpa harus mengambil dan menyerahkan fisik uang dalam jumlah yang besar.

Yang menjadi fokus program GNTT adalah transaksi yang bersifat retail, dengan tujuan secara bertahap mengurangi kebutuhan dan ketergantungan terhadap uang kartal, yaitu fokusnya kepada produk uang elektronik. Menurut Bank Indonesia, Uang Elektronik dikelompokkan menjadi dua; chip based untuk media kartu plastik dan server based untuk media smartphone. 



Gambar 2 – Instrumen Pembayaran Non-Tunai
 
Perkembangan teknologi khususnya di bidang financial technology (fintech) yang sedemikian cepatnya mendorong munculnya uang elektronik kategori server based. Bank Indonesia merespon hal ini dengan segera melakukan perubahan atas Peraturan Bank Indonesia tentang Uang Elektronik, dengan dikeluarkannya PBI No. 18/17/PBI/2016, menggantikan PBI No. 11/12/PBI/2009. Data uang elektronik kategori server based cukup sulit diketahui jumlah dan sirkulasinya. Adanya peraturan yang baru tersebut diharapkan dapat membantu Bank Indonesia mengawasi perkembangan e-money server based tersebut dalam koridor yang benar.
Dengan pengelompokan instrumen alat pembayaran tersebut, jumlah uang beredar menurut Bank Indonesia dapat diartikan sebagai berikut:

1.     M1, atau narrow money
Definisi uang kategori ini mencakup uang kartal yang dipegang oleh masyarakat dan uang giral (giro dengan denominasi Rupiah).

Pengertian uang kartal adalah uang dalam bentuk fisik atau bank note yang diterbitkan oleh Bank Indonesia selaku Bank Sentral, dengan bahan kertas dan logam. Umumnya uang kartal digunakan untuk transaksi pembayaran yang bersifat retail dan nominal yang relatif kecil.

2.     M2
M1 + uang kuasi
Uang kartal, uang giral (denominasi Rupiah), tabungan, simpanan berjangka dalam Rupiah dan valas, dan giro valas, dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki oleh sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu tidak lebih dari satu tahun (instrumen pasar uang dalam negeri).


Keberhasilan program GNTT dapat diukur salah satunya melalui pertumbuhan jumlah M2 yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah M1, atau secara spesifik dibandingkan dengan uang kartal.

Gambar 3 – Tren Perkembangan Uang Kartal dan M2


Hasil dari program GNTT sejak tahun 2014 cukup terlihat melalui indikator pada gambar 3. Di mana angka pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) M2 sejak tiga tahun terakhir lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan uang kartal. Proporsi uang kartal dalam M2 juga semakin menurun, di mana pada akhir tahun 2012 sebesar 13,3% dari M2, turun menjadi 11,9% pada bulan September 2016.


Perkembangan Instrumen Pembayaran Non-Tunai

Berdasarkan data dari Newsletter Bank Indonesia, transaksi non-tunai di Indonesia masih sangat kecil. Secara proporsi baru 0,6% dari nilai transaksi yang dibayar dengan non-tunai, sisanya sebesar 99,4% masih menggunakan pembayaran tunai. Jika dibandingkan dengan negara tetangga lain seperti Thailand yang nilai transaksi non-tunai telah mencapai 2,8%, Malaysia sebesar 7,7%, dan Singapura yang mencapai 45,5% dari total nilai transaksi2, potensi yang dihadapi oleh Indonesia masih sangat besar.
Contoh negara maju lain, Korea Selatan telah memulai kampanye less cash society sejak tahun 1999. Hasilnya adalah 70% dari transaksi dilakukan secara non-tunai2. 

Gambar 4 – Infrastruktur Pembayaran Non-Tunai

Salah satu kendala dari perkembangan infrastruktur pembayaran non-tunai adalah konsentrasi dari jumlah infrastruktur tersebut masih berada di wilayah pulau Jawa dan Sumatera. Masing-masing bank berlomba-lomba untuk menambah jumlah sarana infrastruktur mereka, yang berujung pada inefisiensi biaya operasional. Seharusnya pihak bank bekerja sama untuk menggunakan sarana infrastruktur di daerah yang sudah terkonsentrasi, dan mengembangkan sarana yang baru di wilayah timur yang masih sangat potensial.
Hal ini sudah direspon oleh Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) dengan meluncurkan jaringan ATM konsolidasi dengan nama ATM Himbara untuk mensinergikan sarana infrastruktur mereka dan menghilangkan biaya transaksi untuk efisiensi nasabah3.

Gambar 5 – Jumlah Instrumen Pembayaran Non-Tunai

Pertumbuhan jumlah kartu ATM, kartu kredit dan e-money sejak tahun 2009 menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis. Pertumbuhan jumlah kartu ATM relatif cukup normal, seiring dengan perkembangan jumlah nasabah dan penetrasi perbankan. Sementara angka pertumbuhan jumlah kartu kredit cukup stagnan. Hal ini dikarenakan penerapan peraturan Bank Indonesia No. 14/2/PBI/2012 mengenai Penyelenggaraan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu. Peraturan ini membatasi kepemilikan kartu kredit yang sebelumnya tidak diregulasi. Justifikasi dari peraturan tersebut adalah untuk manajemen risiko dari sisi penerbit kartu dan pengguna kartu kredit. Fasilitas kartu kredit hanya dapat diberikan kepada pemegang kartu dengan umur minimal 21 tahun, dan pendapatan di atas Rp 3 juta dibatasi maksimal dua penerbit kartu kredit. Dampak dari implementasi PBI tersebut terlihat pada data jumlah kartu kredit yang flat sejak tahun 2012 hingga saat ini.

Sedangkan untuk produk e-Money, angka CAGR sebesar 50% selama 7 tahun terakhir, menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan. Jumlah pengguna e-money hingga akhir 2015 mencapai 34 juta kartu, yang berarti bahwa implementasi program GNTT cukup menunjukkan hasil positif.
 
Gambar 6 – Jumlah Volume Transaksi Kartu ATM, Kartu Kredit dan E-Money

Sejalan dengan pertumbuhan jumlah kartu, angka volume transaksi kartu ATM, kartu kredit dan e-Money menunjukkan indikasi yang sama. Volume transaksi e-Money lebih agresif dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah kartunya (CAGR 77% vs 50%). Hal ini dapat dikarenakan penerapan e-ticketing pada bus Transjakarta dan Commuterline sejak tahun 2014. Kedua program tersebut mendorong tumbuhnya volume transaksi e-Money secara signifikan.  

Gambar 7 – Jumlah Nominal Transaksi Kartu ATM, Kartu Kredit dan E-Money
Gambar 8 – Rata-rata Nominal Transaksi Kartu ATM, Kartu Kredit dan E-Money

Dari sisi jumlah nominal transaksi pada kartu ATM, menunjukkan pertumbuhan dengan CAGR 19% dalam 7 tahun terakhir. Sedangkan dari rata-rata nominal transaksi terlihat bahwa flat hanya Rp 1,1 juta per transaksi. Ini berarti bahwa umumnya nasabah menggunakan kartu ATM dengan rata-rata nominal transaksi kisaran Rp 1 juta. Hal yang sama ditunjukkan pada data kartu kredit. Rata-rata nominal transaksi kisaran Rp 900.000,- hingga Rp 1 juta, tetapi dengan pertumbuhan nominal transaksi yang lebih lambat dibanding kartu ATM (CAGR 11% vs 19%).

Data kartu e-Money menunjukan consumer behavior yang cukup menarik. Jumlah nominal transaksi tumbuh tinggi, dengan CAGR 47% (tertinggi dibanding kartu ATM dan kartu kredit), tetapi rata-rata nominal per transaksi justru menunjukkan angka yang menurun. Di tahun 2015, rata-rata nominal transaksi e-Money hanya Rp 10.000,- per transaksi, dibandingkan Rp 30.000,- pada tahun 2009. Ini menunjukkan kontribusi yang cukup besar dari transaksi retail, khususnya di bidang transportasi (Transjakarta dan Commuterline) dan pembayaran tiket tol electronic. Perubahan consumer behavior pada transaksi transportasi dan tol, memperlihatkan bahwa awareness masyarakat sudah semakin baik dalam memanfaatkan instrumen pembayaran non-tunai.

Tren positif ini bukan berarti program GNTT yang dijalankan sudah berhasil. Masih banyak program dan inisiatif lain yang bisa dikembangkan oleh pemerintah dan pihak swasta. Inovasi pada metode e-payment dengan memanfaatkan perkembangan teknologi, dapat mempercepat konversi penggunaan pembayaran non-tunai.

Program GNTT yang terus dikembangkan oleh Bank Indonesia, akan mencakup kategori transaksi3 sebagai berikut:
1.     Person to Person payment (P to P)
2.     Person to Business payment (P to B)
3.     Business to Business payment (B to B)
4.     Government to Person payment (G to P)
5.     Person to Government payment (P to G)

Inisiatif yang sudah dilakukan oleh pemerintah pusat adalah dengan  mentransaksikan 90 persen dan mentransfer 100 persen anggaran ke daerah secara non-tunai. Implementasi pembayaran non-tunai di daerah yang masih harus ditingkatkan lagi.


Gambar 9 – Rata-rata Nominal Transaksi Kartu ATM, Kartu Kredit dan E-Money

Salah satu indikator negara maju adalah semakin terbatasnya penggunaan uang tunai dalam kegiatan sehari-hari. Gambar 9 di atas yang dikutip dari www.visualcapitalist.com memperlihatkan bahwa tingkat penggunaan pembayaran non-tunai di negara maju di kawasan Amerika Utara, Eropa Barat dan Asia Pasifik (Jepang, Korea, Hong Kong, Australia) mencapai 34-52% terhadap total transaksi. Berbeda jauh dengan negara-negara di luar kawasan tersebut yang penggunaan pembayaran non-tunai hanya berkisar 1-9% dari total transaksi.

Untuk mengejar kertinggalan ini, Bank Indonesia bersama dengan pemerintah harus meningkatkan kesadaran masyarakat melalui program GNTT. Program edukasi dan perluasan akses jasa keuangan juga perlu ditingkatkan agar tingkat literasi dan finansial inklusi dapat semakin tinggi.

Manfaat dari Transaksi Pembayaran Non-Tunai

Banyak hal positif yang dapat dirasakan manfaatnya melalui transaksi pembayaran non-tunai, yaitu sebagai berikut:
§  Aman
§  Cepat
§  Nyaman
§  Praktis
§  Akuntabilitas dan transparansi
§  Efisiensi di sisi Bank Indonesia sebagai pengelola uang kartal
§  Pencatatan transaksi secara otomatis melalui sistem
§  Meningkatkan kecepatan peredaran uang (velocity of money) dalam masyarakat yang secara tidak langsung akan mendorong pertumbuhan ekonomi.


Salah satu hal sederhana dari manfaat penggunaan e-Money adalah akumulasi dari jumlah uang kembalian. Seringkali kita mengesampingkan uang logam dari hasil kembalian karena nilainya yang sudah tidak material lagi. Uang logam sebesar Rp 500,- bahkan sudah tidak bisa digunakan untuk membeli barang lagi. Kita sering “membuang” uang logam tersebut, menaruhnya di sembarang tempat dengan menganggap tidak ada nilainya lagi. Tapi tahukah anda, jika rata-rata satu orang “memiliki” uang logam tidak terpakai sebesar Rp 1.000,- di dalam rumahnya, dengan jumlah populasi penduduk sebesar 250 juta orang, maka ada jumlah sebesar Rp 250 Miliar dana idle yang mati, dan tidak digunakan dalam perputaran kegiatan ekonomi. Bayangkan jika uang logam yang terbuang per individu mencapai angka yang lebih besar. Berapa besar dana idle yang menjadi mati di dalam masyarakat. Padahal uang logam tersebut juga adalah uang yang sah secara hukum, dan termasuk dalam kategori uang kartal dan M2 dalam siklus velocity of money yang dihitung oleh Bank Indonesia.

Produk uang elektronik atau e-Money dapat “mengurangi” uang logam yang terbuang tersebut, dengan mengakumulasikannya dalam saldo masing-masing kartu. Bahkan Rp 1,- pun tidak akan terbuang dengan sia-sia. Manfaat ini yang harus disadari oleh individu dan masyarakat pada umumnya, bahwa hampir tidak ada sisi negatif dari implementasi program GNTT. Tujuannya dan benefitnya dalah untuk semua stakeholder.

Bank Indonesia bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi, bank penerbit uang elektronik, dan payment enabler telah beberapa kali mengadakan roadshow, misalnya dalam bentuk Festival Smart Money Smart City yang salah satunya dilakukan pada tanggal 2-4 Juli 2016 di Golf Driving Range Senayan, Jakarta. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat mendukung dan meningkatkan awareness masyarakat akan program GNTT.

Masa Depan Payment Transaction untuk Mendukung E-Commerce dan Digital Financial Service

Perkembangan Layanan Keuangan Digital (Digital Financial Service) semakin mengarah kepada kebutuhan sehari-hari. Contohnya uang elektronik dapat digunakan untuk transaksi pembayaran sebagai berikut:
§  Pintu Tol : Jabodetabek, Cirebon, Semarang, Surabaya, Bali, dan Medan (ruas tol tertentu).
§     Bus : Transjakarta, Trans Jogja, Batik Solo Trans.
§     Kereta : Commuterline Jabodetabek.
§  Parkir : ISS Parking, Secure Parking, parkir pinggir jalan di kawasan tertentu (foto terlampir).
§     SPBU : Pertamina dengan logo e-Money.
§   Convenience store : Indomaret, Alfamart, Alfamidi, Lawson, Circle-K, Lion Superindo, Hypermart.
§     Toko : Gramedia.
§      Restoran : Solaria, Excelso, Es Teler 77.
§     Rekreasi : Waterboom Cikarang, Wonder Water World Medan. Snowbay Waterpark, dan lain-lain.

Gambar 10 – Mesin e-Payment untuk Parkir Kendaraan

 
Gambar 11 – Vending Machine Comutterline





 
Gambar 12 – Tapping Machine Commuterline


Gambar 13 – Tapping Machine Transjakarta

Untuk mengisi ulang uang elektronik, nasabah cukup mendatangi mesin ATM atau convenience store terdekat. Transaksi dengan menggunakan uang elektronik akan mengurangi antrian pembelian tiket, menunggu uang kembalian, dan pemeriksaan tiket.

Selain untuk kebutuhan komersil, uang elektronik dapat digunakan sebagai instrumen penyaluran dana bantuan/subsidi untuk meningkatkan efisiensi, efekfititas, dan mengurangi potensi risiko penyalahgunaan bantuan tersebut (G to P payment).

Dengan semakin cepatnya perkembangan e-commerce di Indonesia, penggunaan instrumen pembayaran non-tunai dapat terus meningkat. Pembayaran transaksi e-commerce melalui mekanisme transfer dana, kartu kredit, uang elektronik dan e-wallet dapat menggeser frekuensi penggunaan uang kartal yang selama ini digunakan.

Berdasarkan data dari @wearesocialsg, pada bulan Januari 2016, jumlah pengguna internet aktif di Indonesia mencapai 88 juta orang, atau sekitar 34 persen dari jumlah populasi di Indonesia, di mana 79 juta dan 66 juta penggunanya adalah pemakai aplikasi social media yang aktif melalui fixed line dan mobile. Jumlah ini merupakan potensi pasar yang sangat besar, di mana transaksi yang dilakukan oleh para pengguna tersebut hampir seluruhnya menggunakan pembayaran non-tunai. Institusi penyedia jasa keuangan lokal harus cepat menangkap peluang ini dan meningkatkan infrastruktur pendukungnya. Jika tidak, maka peluang ini akan diambil oleh pihak asing yang jauh lebih siap dari sisi teknologi dan kapitalnya.


Gambar 14 – Potensi E-Commerce di Indonesia

Dengan adanya relaksasi Bank Indonesia dan OJK untuk mengakomodir perkembangan e-commerce tersebut diharapkan kemudahan yang diberikan tetap dapat menjaga empat poin utama dalam sistem pembayaran non-tunai keamanan, efisiensi, perluasan akses dan perlindungan konsumen.
Studi yang dilakukan oleh World Economic Forum, menyatakan bahwa perkembangan teknologi dalam bentuk disruptive innovation menyebabkan platform financial service yang selama ini dibentuk menjadi berubah4. Implikasi dari evolusi tersebut menyebabkan model bisnis jasa keuangan menjadi tidak jelas, menciptakan ketidakpastian, dan memaksa industry leaders untuk merespon perubahan tersebut untuk bertahan dalam kompetisi yang semakin ketat4. Produk uang elektronik hanya awal yang sederhana dari disruptive innovation di dalam fintech. Inovasi fintech yang bersifat disruption tidak hanya one-time event, tapi akan terus-menerus dan mengubah consumer behavior masyarakat4. Seperti kita sudah bisa lihat pada kecenderungan orang untuk membeli sesuatu secara daring (online), melambatnya sales pada physical stores, awareness Gojek, Uber, Grab, yang benar-benar mengubah kebiasaan masyarakat selama ini.


Program GNTT yang dijalankan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia, diharapkan dapat mengejar ketertinggalan Indonesia dalam transaksi pembayaran non-tunai. Jumlah pengguna internet di Indonesia yang cukup besar, dan awareness yang tinggi dari mayoritas penduduk di usia produktif (populasi gen X dan Y) diharapkan dapat mempercepat konversi pengunaan transaksi non-tunai. Saat ini, masyarakat Indonesia dan global sudah berhadapan dengan cashless world dengan bentuk key trend:
§  Mobile payments
§  Streamlines payments
§  Integrated billing
§  Next generation security

Key trend tersebut sangat berbeda dengan metode pembayaran konvensional sebelumnya dan jauh lebih advance dibanding hanya sekedar uang elektronik yang saat ini sedang diperkenalkan ke masyarakat Indonesia.

Selain dorongan pertumbuhan karena teknologi, studi yang dilakukan oleh Nomura dan dipublikasikan oleh Bloomberg menunjukkan bahwa perkembangan e-Money juga akan dipengaruhi oleh kebijakan monetari ekspansif yang diterapkan oleh beberapa bank sentral seperti di Jepang dan Eropa5. Kebijakan moneter Negative Interest Rate Policy (NIRP) secara tidak langsung akan mendorong percepatan evolusi e-payment tersebut5.
Untuk menghindari negative interest rate yang dapat mengurangi jumlah tabungan atau deposit, masyarakat di negara tersebut akan cenderung menyimpan uangnya dalam bentuk kas. Instrumen uang elektronik dapat menjadi alternatif lain bagi masyarakat untuk menyimpan tabungannya. Selain dana tidak tergerus negative interest rate, uang elektronik lebih aman dan mudah dibawa dibandingkan dengan menyimpan uang tunai di rumah.

Tulisan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bagi individu dan masyarakat untuk memahami manfaat dari penggunaan instrumen pembayaran non-tunai. Suka atau tidak suka, masa depan jasa keuangan dan transaksi pembayaran sudah berubah dari metode konvensional saat ini. Inovasi fintech yang dinamis akan mengarah kepada simplifikasi jasa keuangan, mobile, cepat, dan yang pasti akan mengubah consumer behavior masyarakat.
 
“The best way to predict your future, is to create it.” ~ Abraham Lincoln

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan Net Media (PT Net Mediatama Indonesia) dengan tema “SmartMoney Wave”.


Sumber:
www.bi.go.id
1Bisnis Indonesia. Bank Dunia Catat Baru 36% Masyarakat Indonesia Punya Akses Perbankan. 31 Desember 2015.
2Gerai Info Bank Indonesia. Mengurangi Ketergantungan Pada Uang Tunai. Newsletter Bank Indonesia, Edisi 50, Tahun 2014.
3Kontan. Himbara Gratiskan Biaya Tarik Tunai di ATM Link. 31 Oktober 2016.
4World Economic Forum. 2015. The Future of Financial Services: How Disruptive Innovations Are Reshaping The Way Financial Services Are Structured, Provisioned and Consumed. Financial Services Community prepared in collaboration with Deloitte.
5Finkel, Isobel & Natasha Doff. Bloomberg Article: Nomura Has 10 ‘Gray Swan’ Risks That Could Roil Markets in 2017. December 8, 2016.



OFFICIAL CONTACT
BANK INDONESIA
Jl. MH Thamrin No. 2, Jakarta 10350
131
bicara@bi.go.id

SOCIAL MEDIA
BankIndonesiaOfficial
@bank_indonesia
bank_indonesia
BankIndonesiaChannel
OFFICIAL CONTACT
PT NET MEDIATAMA
Jl. Mega Kuningan Barat No. 3, Kuningan TImur, Setiabudi, Jakarta Selatan 12950
SOCIAL MEDIA
netmediatamaindonesia
@netmediatama
netmediatama
netmediatama

About Agnes Claudia

Hi, My Name is Agnes. I have interest in Food, Photography, Travel and Beauty. Should you have any comments or any other business queries, please drop down your comments below. Enjoy The Fat Falcon! :)

0 comments:

Posting Komentar